Seberapa kayakah Allah itu?
Kita tentu tahu bahwa Tuhan itu Maha Kaya. Tetapi seberapa kaya? Tentu anda bisa menjawab “Pokoknya kaya. Tidak ada yang lebih kaya dari Allah!”. Oke, anda benar.
Ketika beberapa tahun yang lalu saya membaca ayat:
“Innalladziiina kafaruu wa maatuu wa hum kuffaaro, fa lan yuqbala min ahadihim mil’ul ardli dzahaban wa lawiftadaa bih. Ulaaika lahum adzaabun aliim. Wa maa lahum min naashiriin (sesungguhnya orang-orang kafir, yang mati masih dalam keadaan kafir, maka tidak akan diterima tebusan untuk salah satu dari mereka, emas sepenuh/sebesar bumi, meskipun emas itu ditambah lagi. Mereka tetap akan mendapatkan siksa yang sangat menyakitkan, dan tidak ada penolong untuk mereka”
Semula saya mengira (mungkin anda juga) bahwa besarnya tebusan emas sebesar bumi untuk mengampuni dosa satu orang kafir itu tidak cukup, adalah pengandaian saja. Intinya bahwa dosa orang kafir itu siksanya tidak bisa ditebus dengan tebusan kekayaan sebesar apapun.
Tetapi setelah kemajuan pengetahuan makin luar biasa, otomatis kekayaan Allah juga makin terkuak. Saya mulai mengerti bahwa itu bukan pengandaian! Itu adalah benar. Allah benar-benar kaya dan memiliki kekayaan yang luar biasa!
Bumi ini ternyata tidak ada artinya bagi Allah, bahkan bila bumi ini semuanya adalah emas!!
Saya akan menunjukkan rincian dari apa yang bisa membantu merinci kekayaan Allah lebih detail. Ikuti dengan sabar dan hati terbuka.
Bayangkan sekarang anda mempunyai pasir warna-warni sebanyak satu truk.
- Anda ambil segenggam pasir, lalu anda lemparkan ke udara. Wuush..!! lalu pasir warna-warni tersebut berhenti di udara tanpa terpengaruh gravitasi bumi.
- Anda ambil se-ember pasir lagi , lalu anda lemparkan ke udara. Wuush..!! lalu pasir-pasir tersebut berhenti di udara juga. Sangat indah dan warna-warni.
- Selanjutnya anda ambil semua pasir dalam truk, lalu dengan kompresor raksasa, anda semburkan ke udara. Woosh..!! lalu pasir warna-warni tersebut tersebar dan berhenti di udara sebelah pasir terdahulu.
- Dengan membawa puluhan kompresor raksasa, kita lalu pergi ke pantai Parangtritis Jogja. Semua pasir kita semprotkan dengan kompresor raksasa.
- Setelah selesai, kita ke pantai Krakal, Pangandaran, Pasir Putih, Senggigi, Kuta, Seminyak, Legian dan seterusnya. Kita semburkan seluruh pasir di sana ke udara.
Demikian juga seluruh pasir di pantai Indonesia dan pantai negara lain, kita habiskan dengan menerbangkannya ke angkasa.
Berapa jumlah planet di jagad raya?
Selesai dengan pasir pantai, kita habiskan gunung pasir di Gurun Sahara, Gurun Sinai, Gurun Gobi dan semua pasir di bumi ini. Semuanya kita semprotkan dan menjadi benda yang beterbangan di angkasa raya.
Menurut para ilmuwan yang sudah menghitung dengan komputer, itulah sebenarnya jumlah planet yang ada di alam semesta. Sebanyak pasir bumi yang telah kita terbangkan ke angkasa. Bahkan lebih banyak lagi. Salah satu planetnya adalah bumi yang kita tempati ini.
Manusia ini sangat miskin.
Selama ini, manusia di bumi berebut sebidang tanah dengan sertifikatnya. Ada yang dapat ‘banyak’ ada pula yang dapat sedikit. Yang dapat banyak, bisakah diukur, berapa persen dari luas bumi? Pasti masih sangat sedikit!!
Ada yang di ujung usianya mendapat selembar kertas sertifikat senilai 200 meter tanah. Ada pula yang sampai meninggal, dengan segala usahanya, ternyata tidak senilai dengan sebidang tanah. Tidak mendapat tanah untuk diwariskan.
Betapa pun kita kagum dengan rumah indah bagaikan istana raja. Apalagi kalau rumah kita tidak sebagus itu.
Betapa pun kita mengagumi taman pribadi dengan kolam renang yang luas dan jernih. Apalagi kalau kita tidak punya.
Betapa pun kita mengagumi mobil yang harganya ratusan juta atau milyaran rupiah. Apalagi kalau mobil kita hanya puluhan juta rupiah atau kita tidak punya.
Cobalah introspeksi, ketika kita naik pesawat pada proses take off. Dari jendela akan terlihat nyata.
Mobil mewah, rumah indah, gedung tinggi, semuanya mulai kabur dan menjadi tiada berarti. Menjadi titik yang sama dengan yang lain.
Bahkan kalau kita menunjuk, saat itu bisa keliru antara rumah kita dan kuburan.
Kesemua kekayaan itu tidak berarti bila dibandingkan dengan bumi yang kita tempati ini.
Belum lagi bila dibandingkan dengan nilai seluruh planet di alam semesta.
Dibandingkan dengan bumi kita sendiri saja, kita ini bukan siapa-siapa, bahkan bukan apa-apa.
Musnahnya kita dan bumi seisinya, tidak mengurangi kekayaan Allah sedikitpun!!
SEMOGA KITA BISA RENDAH HATI
HANYA ALLAH YANG BERHAK SOMBONG
AMPUNI KAMI YA ALLAH