Kisah Nabi Ibrahim 1. Tuhan Tidak Bisa Digambarkan.
Salam kami untukmu wahai Nabi Ibrahim.
Ibrahim adalah anak seorang ahli pembuat patung. Pada jaman itu orang lebih mantab kalau menyembah Tuhan yang bisa dilihat perwujudannya.
Kalau ingin menyembah Tuhan yang bersifat pengasih, mereka membuat patung Tuhannya dengan wajah welas asih.
Kalau ingin menyembah Tuhan yang bersifat pemarah, mereka membuat patung Tuhannya dengan wajah garang dan menyeramkan lalu menyembahnya.
Kalau ingin menyembah Tuhan yang bersifat pemberi rizki, mereka membuat patung Tuhannya dengan wajah dermawan dan seterusnya. Ada kurang lebih 360 patung Tuhan.
Dalam kisah Ibrahim inilah terkenal pemberantasan patung-patung yang menggambarkan Tuhan, pertama kali dilakukan.
Mengapa dalam Islam tidak diwujudkan adanya patung Tuhan seperti jaman dulu? Ada beberapa alasan yang masuk akal antara lain
- Islam adalah penerus agama Ibrahim. Sehingga pastilah mempunyai konsep dan dasar-dasar yang sama. Apapun alasannya, tidak ada patung yang pantas menggantikan gambaran Tuhan!
- Patung yang dibuat tentu hanya sesuai dann terbatas dengan memori otak pembuatnya. Anda hanya bisa menemukan benda dalam kantong, bila di dalamnya pernah diisi sesuatu.
- Dengan kemajuan astronomi, diketahui bahwa jumlah planet yang ada, ternyata lebih banyak dibandingkan dengan pasir diseluruh bumi ini. Silakan membayangkan seluruh pantai yang pernah anda kunjungi dan pernah anda baca lalu jumlahkan pasirnya. Apakah jumlah itu sudah mewakili, atau hanya sebagian kecil dari pasir yang ada di bumi. Masih mampukah otak kita menggambarkan Tuhan, walau dengan patung yang garang, dermawan atau yang welas asih?
Bila memusnahkan bumi tempat tinggal kita, Allah seakan hanya akan kehilangan sebutir pasir saja. Sedemikian tidak berharganya kita dimata Allah, yang akan dengan mudah mengganti kita dengan makhlukNya yang lain.
Penggambaran Tuhan, apalagi dengan wujud seperti kita adalah GR (gede rasa) yang berlebihan tentang diri kita.
Dalam Islam, bahkan penggambaran Nabi Muhammad pun tidak diperbolehkan. Why? Agama Islam diturunkan tidak hanya untuk Bangsa Arab, tetapi kaaffatan linnaas, untuk seluruh umat manusia.
Penggambaran Muhammad bisa mengakibatkan pengkultusan Bangsa Arab dan rasa superioritas.
14 abad yang lalu, Islam sudah mengajarkan, baik tidaknya seseorang ditentukan oleh tingkat ketaqwaan (ketaatan pada Tuhan) dan manfaatnya bagi orang lain. Bukan atas ras, keturunan, maupun warna kulit. Yang baru disadari oleh masyarakat dunia akhir-akhir ini.
Ibrahim yang dilahirkan dari keluarga kafir pembuat patung Tuhan, dari masyarakat penyembah patung yang menurut mereka mewakili perwujudan Tuhan, merasa ada yang salah dari cara menyembah tersebut.
Dalam pencarian kebenaran, dia memandang alam semesta dan bintang-bintang. Semula dia menganggap bahwa bulan yang bercahaya adalah Tuhan. Beberapa waktu kemudian dia menganggap bawa matahari lah Tuhan itu karena lebih besar dan sinarnya lebih terang.
Selanjutnya ketika melihat matahari tenggelam, dia merasa bahwa matahari bukan Tuhan pula, karena Tuhan tidak mungkin tenggelam.
Entah berapa lama proses pencarian Tuhan itu berlangsung. Dia merasa bahwa yang tampak fisiknya, tidak ada yang pantas menjadi Tuhan.
Akhirnya dia besujud berserah diri dan mengatakan: “Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku dengan sebenarnya kepada sang pencipta seluruh langit dan bumi. Dengan murni dan berserah diri, dan aku bukanlah orang yang musyrik (membandingkan Tuhan dengan yang lain)”
Ibrahim tidak salah. Memang sudah sewajarnya “Laisa kamitslihi syai’un fil ardli, wa laa fissamaa’i (tiada yang menyerupaiNya, baik di bumi, maupun di langit)”. Jadi, apapun yang kita bayangkan tentang Tuhan, pasti bukan itu!
Kesimpulan:
- Ibrahim, bapa para nabi, dengan perjalanan ilmunya, baik dalam bentuk pengamatan fisik maupun spiritualnya, menyerah dan tidak mampu menggambarkan bentuk Tuhan.