Kisah Nabi Ibrahim 2. Menghancurkan Patung-Patung Tuhan.
Salam kami untukmu wahai Nabi Ibrahim.
Manusia Luar Biasa.
Apakah Ibrahim orang biasa? Pasti bukan! Manusia sekelas itu tentu orang yang tahan lapar, sering menyendiri (halwat / bertapa), sebagaimana Nabi Muhammad saat menerima wahyu.
Demikian juga dengan Ibrahim. Setelah sujud dan menyerahkan dirinya untuk Allah (baca Ibrahim 1), dia makin sering menyendiri untuk mendapatkan petunjuk.
Tidak diceritakan, seberapa sering dia berpuasa, berapa lama dia mengasingkan diri, dan berapa banyak mukjizat yang telah dia dapatkan.
Akhirnya Ibrahim mendapat wahyu untuk menghancurkan semua patung yang digunakan untuk menggambarkan Tuhan.
Pada suatu malam, semua patung besar dan kecil di tempat pemujaan ‘dihabisinya’. Semuanya dipenggal kepalanya, kecuali satu yang paling besar. Kemudian kapak yang dipakai memenggal tadi dikalungkan pada yang satu itu.
Kalau Ibrahim bukan orang yang linuwih (punya kekuatan dan ‘kelebihan’) pekerjaan membantai patung-patung itu, yang jumlahnya sekitar 360 buah sesuai jumlah hitungan tahun, tentu makan waktu yang lama, dan tapak tangannya pasti hancur. Anda bisa membayangkan besarnya salah satu patung spink, singa penjaga piramida mesir dan sejenisnya.
Negara geger. Raja memerintahkan mencari pelaku pembantaian Tuhan mereka. Semua fakta keseharian menunjukkan Ibrahim lah pelakunya. Ibrahim ditangkap dan dibawa ke TKP (tempat kejadian perkara). “a anta fa’alta bi aalihatinaa yaa Ibraahiim? (apakah kamu yang melakukan hal ini pada Tuhan kami, hai Ibrahim?)” kata sang raja.
“Ka annahuu huu, kabiiruhum haadzaa. Fas alhum inkaanuu yanthiquun” (Sepertinya yang besar ini. Coba tanyalah kalau mereka bisa menjawab)” jawab Ibrahim sambil menunjuk patung yang berkalung kapak.
Sejenak mereka introspeksi. “Mana mungkin patung bisa menjawab?” tapi mereka segera sadar bahwa sedang dipermainkan Ibrahim, dan kembali pada harga diri dan keangkuhan mereka.
Nabi Ibrahim ditangkap dan diborgol.
Kemudian dibangunkan panggung yang sangat besar dari kayu bakar, di alun-alun di depan kerajaan untuk membakar si penghina kepercayaan mereka itu. Berita segera disebar untuk prosesi pembakaran terhadap pembantai Tuhan mereka.
Ibrahim dibakar.
Kerajaan mengadakan persiapan khusus untuk keamanan raja dan pesta kemenangan.
Rakyat datang berbondong-bondong ingin menyaksikan hukuman yang mengerikan itu. Ada yang membawa bekal sendiri, dan ada yang datang sambil berjualan makanan.
Setelah rakyat dan bangsawan berkumpul, barulah raja datang dikawal oleh pasukan kehormatan, seperti upacara pada umumnya.
Upacara pembukaan dan protokoler dimulai. Ibrahim sudah diikat dan dinaikkan ke atas panggung ‘kehormatan’.
Petugas menyiramkan minyak di sekeliling panggung yang akan menjadi lautan api. Penjaga keamanan berjaga di sekelilingnya, sebagian menghadap ke arah panggung, dan sebagian menghadap ke arah penonton.
Sebagai manusia, Ibrahim ketar ketir juga. Apakah umurnya tinggal sebentar lagi, ataukah Allah akan memberinya keselamatan?
Namun Ibrahim adalah manusia luar biasa, bapak dan kakek para nabi yang ada di bumi ini berusaha tenang dan berdoa kepada Allah.
Sementara itu raja sudah selesai dengan prosesinya. Obor-obor segera dinyalakan, dan secara hampir bersamaan dilemparkan dari segala penjuru disertai berbagai macam teriakan.
Panggung menyala dengan cepat. Disertai suara gemeratak kayu yang terbakar, api menjulang ke langit. Samar-samar kelihatan Ibrahim menggeliat. Tak lama kemudian bayangan Ibrahim hilang tertelan besarnya api yang menggila.
Sebagaimana saya ceritakan tentang bedanya kesaktian dan mukjizat (lihat bab mukjizat), kekuatan mukjizat memang ribuan kali lipat.
Kalau orang sakti biasa, saat atraksi misalnya, dia hanya melindungi diri dari panas api yang dijilatnya, atau panas yang membakarnya.
Apa yang terjadi ketika Ibrahim dibakar? Dalam ayat Al-Qur’an difirmankan: “Yaa naaru kuuni bardan wa salaaman ‘alaa Ibrahiim (wahai api, jadilah kamu dingin dan selamatkan Ibrahim)”
Ketika mukjizat nabi diucapkan, kekuatannya ribuan kali lipat, karena yang terjadi adalah firman Allah di atas.
Konon, ketika mukjizat Nabi Ibrahim itu diterapkan, kekuatan firman itu bergelombang dan menggetarkan seluruh api di negara itu dan daerah sekitarnya. Api menjadi tidak panas. Seharian orang menanak nasi atau merebus air,tapi tidak kunjung masak.
Ibrahim selamat.
Bagaimana dengan Nabi Ibrahim? Ketika sudah cukup lama dalam api yang menjadi sejuk, dia mulai keluar dan pergi.
Bagaimana dengan massa dan prajurit yang menjaganya? Anda boleh memilih kemungkinan ini:
- Ada kemungkinan mereka lengah dalam pesta, karena yakin Ibrahim sudah mati terbakar. Sementara Nabi Ibrahim merunduk dan menyelinap pergi diantara ribuan massa.
- Ada kemungkinan mereka tidur kelelahan, setelah pesta merayakan hukuman terhadap Ibrahim.
- Kemunginan mereka tidur kena mukjizat ‘sirep’ yang sangat kuat dari Nabi Ibrahim. Seperti ketika Nabi Muhammad dikepung pasukan kafir.
Kesimpulan:
- Sejak jaman Nabi Ibrahim, penghancuran patung-patung yang dimaksudkan menggambarkan Tuhan sudah dilakukan.
- Salah satu mukjizat Nabi Ibrahim adalah dapat menjadikan api tidak panas (mukjizat lain pada cerita berikutnya).